Pages

Selasa, 17 Februari 2015

AGAMA ITU MUDAH, JANGAN MEMBERATKAN DIRI


            Karena keiman pas-pasan, orang merasa aturan agama demikian berat. Harus begini, dan tidak boleh begitu. Ini perintah, itu larangan. Terlalu banyak aturan dan rambu-rambu, dan ada orang menuruti kata hawa nafsunya, dan sangat sedikit yang menuruti nuraninya. Padahal kita diciptakan tidaklah sia-sia. Allah berfirman, “Apakah manusia menyangka bahwa mereka di biarkan dengan sia-sia?” (QS. Al-Qiyamah: 36).
            Sebenarnya, hidup mengikuti aturan agama adalah kebahagian dan ketentraman bagi hamba Allah yang beriman, sebaliknya hidup jauh dari aturan agama adalah kesengsaraan dan kegelisahan yang tiada berujung, sampai manusia kembali kepada Pencipta-Nya. Disisi lain perbuatan memberatkan diri dalam agama justru tercela, kemudahan dalam menjalani agama ini  peringatan dan arahan agar berlaku pertengahan. Inaddiina yusrun (sesunggunya agama itu mudah).
Rasulullah bersabda: “Allah telah memfardhukan beberapa kewajiban, tolong jangan kalian sia-siakan, Allah telah menetapkan batasan (aturan-aturan), maka jangan kalian cederai, dan Allah juga telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, Allah juga telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, dan bukan karena lupa, maka jangan kalian cari-cari.” (Hadits Hasan Riwayat Daruquthni 4/184).
            Masalah akidah yang asasnya adalah beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik ataupun yang buruk, adalah akidah yang benar menentramkan kalbu, mengikutinya akan mengantarkan seseorang pada tujuan yang mulia dan cita-cita paling utama.
            Akhlak dan amalannya merupakan akhlal yang paling sempurna dan amalan yang paling baik. Dengannya, tercapai kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya, kehilangannya berarti terluput dari seluruh kebaikan. Demikian pula kewajiban-kewajiban adalah perkara yang paling gampang. Kita lihat sisi kemudahannya.

Shalat Lima Waktu

            Setiap malam dan siang hanya dilakukan sebanyak lima kali pada waktunya. Allah Maha Penyayang menyempurnakan dengan mewajibkan shalat secara berjamaah, sebab dengan berjamaah ibadah itu lebih mudah dilakukan, akan membuahkan kemanisan bagi setiap mukmin yang menunaikannya, memperoleh kebaikan agama dan keshalehan serta pahala dari Allah dan setiap mukmin begitu menikmati ibadah shalat.

Zakat

            Amalan ini hanya diwajibkan kepada orang kaya dalam rangka menyempurnakan agama dan keislaman mereka, menyuburkan harta dan mensucikan akhlak, memberikan kelapangan bagi orang yang membutuhkan, menghilangkan kotoran dari harta mereka dan menunaikan kemaslahatan secara menyeluruh. Allah berfirman yang artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Qs.al-Baqarah: 43)

Puasa

            Hanya diwajibkan sebulan dalam setahun, puasa menjadi sebab seorang hamba mencapai ketakwaan, mengantarkannya untuk mengerjakan seluruh kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, dengan meninggalkan syahwat yang biasa terpenuhi, berupa makan, minum dan jima’ di siang hari. Allah mengantikan untuk mereka keutamaan dan kebaikan-Nya yang menyempurnakan agama, iman mereka dan pahala-Nya yang besar.

Haji

            Allah tidak mewajibkan haji kecuali bagi yang mampu, demikian pula umroh hanya diwajibkan sekali. Amalan haji memiliki manfaat yang besar bagi agama dan dunia yang tidak terbatas. Allah berfirman yang artinya: “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat  untuk mereka....” (Qs.al-Hajj: 28)
            Syariat-syariat islam yang lain amatlah mudah baik berkaitan dangan hak Allah maupun hamba. Sebab Allah berfirman yang Artinya, “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan bagi kalian” (Qs.al-Baqarah: 185).
            Sebaliknya, orang yang memberatkan diri, tidak merasa cukup dengan ajaran dan bimbingan Nabi kepada umatnya, dan dia justru berlaku ghuluw (melampai batas dalam ibadah) siapa yang menjalankan agama ini dengan melampai batas, tidak mau mengikuti bimbingan Rasul, niscaya dia akan menyesal.
            Rasulullah memberi wasiat untuk berlaku lurus dan tidak berputus asa, beliau menguatkan jiwa dengan kabar gembira berupa kebaikan, berucap benar, berbuat jujur dan menempuh jalan yang terbimbing. Asas yang bermanfaat ini diambil juga dari firman Allah yang Artinya: “Bertaqwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (Qs.at-Taghabun: 16). Demikikan pula sabda Rasulullah yang artinya: “Apabila aku memerintah sesuatu kepada kalian, lakukanlah semampu kalian.” (Muttafaqun’alaih).
            Dengan demikain, tahulah kita bahwa dalam hadits ini ada beberapa kaidah:
1.       Kemudahan mencakup seluruh syariat.
2.       Kesulitan akan menarik kemudahan pada saat terjadinya kesuliatan.
3.       Apabila Rasulullah memerintahkan sesuatu kepada kita lakukanlah semampunya.
4.       Menyemangati dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beramal dengan kebaikan dan pahala yang akan diperoleh dari amal tersebut.
5.       Wasiat mencakup seluruh sisi, tentang kemudahan yang diberikan dan jalan untuk menuju kepada Allah.
Allah berfirman, “...Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dinia hanyalah kesenangan dan memperda,” (QS. Ali Imran: 85). Wallahu ta’ala a’lam bishshawab. Akhirnya kita memohon kepada Allah selalu melimpahkan rahmat, taufik, karunia dan hidayah-Nya kepada kita agar kita bisa menjalankan syariat agama dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah.


(oleh: Abu hafidzah (Teuku Raja Ismail) dari Al-Qur’an).

0 komentar:

Posting Komentar