Karena keiman
pas-pasan, orang merasa aturan agama demikian berat. Harus begini, dan tidak
boleh begitu. Ini perintah, itu larangan. Terlalu banyak aturan dan
rambu-rambu, dan ada orang menuruti kata hawa nafsunya, dan sangat sedikit yang
menuruti nuraninya. Padahal kita diciptakan tidaklah sia-sia. Allah berfirman,
“Apakah manusia menyangka bahwa mereka di biarkan dengan sia-sia?” (QS. Al-Qiyamah:
36).
Sebenarnya, hidup
mengikuti aturan agama adalah kebahagian dan ketentraman bagi hamba Allah yang
beriman, sebaliknya hidup jauh dari aturan agama adalah kesengsaraan dan
kegelisahan yang tiada berujung, sampai manusia kembali kepada Pencipta-Nya.
Disisi lain perbuatan memberatkan diri dalam agama justru tercela, kemudahan
dalam menjalani agama ini peringatan dan
arahan agar berlaku pertengahan. Inaddiina yusrun (sesunggunya agama itu
mudah).
Rasulullah bersabda: “Allah telah memfardhukan
beberapa kewajiban, tolong jangan kalian sia-siakan, Allah telah menetapkan
batasan (aturan-aturan), maka jangan kalian cederai, dan Allah juga telah
mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, Allah juga telah
mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, dan bukan karena lupa, maka
jangan kalian cari-cari.” (Hadits Hasan Riwayat Daruquthni 4/184).
Masalah akidah yang asasnya
adalah beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya,
Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik ataupun yang buruk, adalah
akidah yang benar menentramkan kalbu, mengikutinya akan mengantarkan seseorang
pada tujuan yang mulia dan cita-cita paling utama.
Akhlak dan amalannya
merupakan akhlal yang paling sempurna dan amalan yang paling baik. Dengannya,
tercapai kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya, kehilangannya berarti terluput
dari seluruh kebaikan. Demikian pula kewajiban-kewajiban adalah perkara yang
paling gampang. Kita lihat sisi kemudahannya.
Shalat Lima Waktu
Setiap malam dan siang
hanya dilakukan sebanyak lima kali pada waktunya. Allah Maha Penyayang
menyempurnakan dengan mewajibkan shalat secara berjamaah, sebab dengan
berjamaah ibadah itu lebih mudah dilakukan, akan membuahkan kemanisan bagi
setiap mukmin yang menunaikannya, memperoleh kebaikan agama dan keshalehan
serta pahala dari Allah dan setiap mukmin begitu menikmati ibadah shalat.
Zakat
Amalan ini hanya diwajibkan kepada orang kaya dalam rangka
menyempurnakan agama dan keislaman mereka, menyuburkan harta dan mensucikan
akhlak, memberikan kelapangan bagi orang yang membutuhkan, menghilangkan kotoran
dari harta mereka dan menunaikan kemaslahatan secara menyeluruh. Allah
berfirman yang artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah
beserta orang-orang yang ruku’.” (Qs.al-Baqarah: 43)
Puasa
Hanya diwajibkan sebulan dalam setahun, puasa menjadi sebab seorang
hamba mencapai ketakwaan, mengantarkannya untuk mengerjakan seluruh kebaikan
dan meninggalkan kemungkaran, dengan meninggalkan syahwat yang biasa terpenuhi,
berupa makan, minum dan jima’ di siang hari. Allah mengantikan untuk mereka
keutamaan dan kebaikan-Nya yang menyempurnakan agama, iman mereka dan
pahala-Nya yang besar.
Haji
Allah tidak mewajibkan
haji kecuali bagi yang mampu, demikian pula umroh hanya diwajibkan sekali.
Amalan haji memiliki manfaat yang besar bagi agama dan dunia yang tidak
terbatas. Allah berfirman yang artinya: “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka....” (Qs.al-Hajj: 28)
Syariat-syariat islam
yang lain amatlah mudah baik berkaitan dangan hak Allah maupun hamba. Sebab
Allah berfirman yang Artinya, “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan
tidak menginginkan kesulitan bagi kalian” (Qs.al-Baqarah: 185).
Sebaliknya, orang yang
memberatkan diri, tidak merasa cukup dengan ajaran dan bimbingan Nabi kepada
umatnya, dan dia justru berlaku ghuluw (melampai batas dalam ibadah) siapa yang
menjalankan agama ini dengan melampai batas, tidak mau mengikuti bimbingan
Rasul, niscaya dia akan menyesal.
Rasulullah memberi
wasiat untuk berlaku lurus dan tidak berputus asa, beliau menguatkan jiwa
dengan kabar gembira berupa kebaikan, berucap benar, berbuat jujur dan menempuh
jalan yang terbimbing. Asas yang bermanfaat ini diambil juga dari firman Allah
yang Artinya: “Bertaqwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”
(Qs.at-Taghabun: 16). Demikikan pula sabda Rasulullah yang artinya: “Apabila
aku memerintah sesuatu kepada kalian, lakukanlah semampu kalian.”
(Muttafaqun’alaih).
Dengan demikain,
tahulah kita bahwa dalam hadits ini ada beberapa kaidah:
1.
Kemudahan mencakup seluruh syariat.
2.
Kesulitan akan menarik kemudahan pada saat
terjadinya kesuliatan.
3.
Apabila Rasulullah memerintahkan sesuatu kepada
kita lakukanlah semampunya.
4.
Menyemangati dan memberi kabar gembira kepada
orang-orang yang beramal dengan kebaikan dan pahala yang akan diperoleh dari
amal tersebut.
5.
Wasiat mencakup seluruh sisi, tentang kemudahan
yang diberikan dan jalan untuk menuju kepada Allah.
Allah berfirman, “...Barang siapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh, dia memperoleh kemenangan.
Kehidupan dinia hanyalah kesenangan dan memperda,” (QS. Ali Imran: 85). Wallahu
ta’ala a’lam bishshawab. Akhirnya kita memohon kepada Allah selalu melimpahkan
rahmat, taufik, karunia dan hidayah-Nya kepada kita agar kita bisa menjalankan
syariat agama dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah.
(oleh: Abu hafidzah (Teuku Raja Ismail) dari Al-Qur’an).
0 komentar:
Posting Komentar